Category :
Pikiran menjadi kata
Kata menjadi tindakan
Tindakan menjadi kebiasaan
Kebiasaan menjadi karakter
Karakter menjadikan kita sebagai diri kita yang sekarang
Banyak orang yang menghambat diri sendiri dengan kata-kata negatif yang terucap, padahal apa yang mereka ucapkan tersebut bukanlah hal yang mereka inginkan, dalam arti lain mereka telah salah fokus.
Realitas yang dihadapi sering menghasilkan keraguan yang akhirnya menjadi alasan untuk mundur. Ketika seseorang menginginkan sesuatu, tak jarang dia mengucapkan keinginan yang disertai keraguan karena memiliki alasan yang menghambat. Misalnya:
"Saya ingin kaya, tapi saya tidak yakin bisa karena tidak tahu caranya."
"Saya ingin langsing tapi sepertinya sulit karena saya terlalu gemuk."
Akhirnya keinginan hanya tinggal keinginan. Padahal jika kita mengucapkannya dengan pola kalimat yang berbeda, maka makna yang kita dapat pun akan berubah.
Kita ambil contoh di atas. Dengan perubahan pola kalimat, maknanya akan terasa berbeda.
"Meskipun saya tidak yakin bisa jadi kaya karena tidak tahu bagaimana caranya, saya tetap ingin kaya, dan saya layak untuk jadi kaya."
"Meskipun saya terlalu gemuk tapi saya tetap ingin langsing, saya berhak untuk jadi langsing, dan saya pasti bisa jadi langsing."
Berbahasa positif sangat penting untuk mengarahkan fokus kita pada keinginan, dan bukan pada kekhawatiran. Bahasa positif adalah pola reframing (membingkai ulang) terhadap suatu pola pikir negatif.
Reframing pola pikir dengan bahasa positif sangat berguna untuk mengatasi keraguan dan membantu memunculkan optimisme.
Orang-orang yang berbahasa positif tidak takut dengan kegagalan, karena kegagalan bagi mereka berarti peluang untuk mendapatkan yang lebih baik. Bahkan pada saat menghadapi keraguanpun kalimat yang mereka ucapkan tetap mengandung optimisme. Misalnya:
"Kalau ini tidak berhasil, pasti ada yang lebih baik"
"Kalau saya tidak berhasil menikahi si A, berarti saya akan dapat pasangan yang lebih baik."
"Kalau saya tidak diterima di perusahaan A, berarti saya akan dapat pekerjaan di perusahaan yang lebih baik."
Kalimat-kalimat di atas diawali dengan mengakui perasaan takut jika tujuannya tidak tercapai, tapi kemudian di reframing dengan kalimat yang lebih positif. Hasilnya = Feel good.
Biasakanlah berbahasa positif bahkan dalam situasi sulit sekalipun. Kebiasaan dimulai dari pembiasaan. Jika mengeluh bisa dijadikan kebiasaan, kenapa tidak lakukan yang sebaliknya? Awalnya mungkin sulit, tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Mulailah dari sekarang, karena kesuksesan berawal dari pola pikir terlebih dahulu. Kita layak untuk sukses, dan kita bisa sukses.
Salam Ikhlas

