…Terimakasih yang tak akan pernah cukup…

Category : Label:

Tak terasa sudah lebih dari 23 tahun aku merasakan manis pahit hidup di dunia yang penuh dengan warna warni ini. Selama itu pula aku telah menerima begitu banyak pelajaran dari berbagai suka dan duka menjalani hidup ini. Bagiku, pelajaran yang teramat membekas dalam hati dan sanubari ini tidak lain dan tidak bukan adalah pelajaran yang diberikan oleh kedua orangtuaku, terutama pelajaran hidup yang diberikan baik secara langsung maupun tidak langsung oleh Ibuku. Ya pelajaran dari Ibuku berupa kesabaran dan ketangguhan dalam menghadapi hidup.
Ibuku adalah seorang sederhana yang meskipun hanya menyelesaikan pengalaman pendidikan formalnya di tingkat sekolah dasar namun tidak kalah cerdas dan hebatnya dengan para ibu yang lulus dari perguruan-perguruan tinggi. Yah… begitulah… karena pada masa Ibuku bersekolah dulu, orangtua Ibuku sedang dalam masa kesulitan finansial, sehingga ia hanya dapat disekolahkan sampai tingkat SD, bahkan ada keluarganya yang lain bahkan tidak dapat menyelsaikan sekolahnya, dan ada juga yang harus menjadi kuli bangunan hanya untuk membiayai sekolahnya sendiri. Selain itu, pemikiran kuno jaman dulu dimana seorang wanita tidak perlu berpendidikan tinggi yang penting dapat baca tulis dan hitung mudah sudah cukup, karena mereka berpikir bahwa sekolah setinggi apapun seorang wanita akan berujung di dapur. Setelah menyelesaikan pendidikan di SDnya, ibuku mulai membantu ekonomi keluarganya yang sedang morat-marit. Karena Ibuku sangat suka memasak dan membuat kue-kue, sejak kecil Ibuku sudah membantu nenekku membuat kue jajanan pasar untuk kemudian dijajakan di sekitar rumah. Walaupun demikian Ibuku sangat menikmati dan tidak banyak berkeluh kesah dengan keadaanya saat itu.
Diusia ke 20 Ibuku dinikahi oleh Ayahku, kondisi keuangan Ayahkupun tidahlah lebih baik. Saat itu Ayahku hanyalah seorang buruh toko kain di Pasar Anyar, yang menerima upah sebesar Rp. 5,000 – Rp. 10,000 per-harinya, pada waktu itu jumlah tersebut tidaklah terlalu kecil seperti sekarang ini, meskipun tidak juga dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari keluargaku. Dengan kondisi finansial yang sedemikian rupa sangatlah mudah terjadi konflik dalam rumah tangga. Ayahku yang memiliki sikap yang keras dan mudah marah seringkali memicu pertengkaran diantara mereka. Masih sangat jelas dalam ingatanku ketika keduanya sedang mengalami pertengaran yang sangat hebat, hingga ibuku menangis tersedu-sedu di dalam kamar mandi sambil membanting perabot rumah tangga. Aku hanya bisa mengintip dibalik pintu sambil menangis tak tahan melihat pertikaian itu. Namun demikian, emosi ibuku cepat mereda. Menghadapi Ayahku yang berwatak keras dan pemarah itu memang bukanlah hal yang mudah apalagi ditambah dengan kesulitan ekonomi yang kami hadapi waktu itu. Akan tetapi toh Ibuku masih sanggup menjadi teman hidup Ayahku hingga saat ini. Kesabaran yang Ibuku tunjukkan kepada kami ini lah yang sangat membekas, disamping itu Ibuku pun sangat cerdas dalam mengatur keuangan keluarga yang memang minim, selain itu, pengalamannya semasa kecil dalam membuat dan menjajakan kue-kue pun, beliau lanjutkan sehingga sedikit banyak dapat membantu keuangan keluarga kami.
Meskipun memiliki riwayat pendidikan yang minim, kedua orang tuaku tidak menginginkan anak-anaknya mengalami hal yang sama dengan mereka. Sebagaimana orang tua lainnya, pasti menginginkan anaknya mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik dari mereka. Hanya saja kondisi keluarga kami yang sangat pas-pasan inilah yang membuat mereka harus berjuang jauh lebih hebat daripada orang tua lainnya yang lebih beruntung. Namun demikian, Aku sangat bersyukur menjadi bagian dalam keluarga ini dan mendapatkan pembelajaran dari mereka. Kehidupan yang keras dan sulit akan menempa seseorang untuk menjadi pribadi yang tangguh, tentunya apabila mendapatkan arahan yang tepat, karena tidak sedikit orang yang berubah jahat dan malas dengan beralasan bahwa mereka menghadapi kondisi yang sulit.
Aku baru sadar, betapa aku harus berterimakasih atas sikap keras Ayahku dan dorongan semangat dari Ibuku. Meskipun masa kecilku penuh dengan tangis karena lecutan dan sentilan yang kuterima ketika aku tidak dapat menjawab PRku dengan baik, atau ketika aku tidak dapat memahami apa yang disampaikan Ayahku ketika mengajariku. Akan tetapi hal itu lah yang memacuku untuk terus belajar dengan lebih giat. Nilai raporku yang hancur berantakan dimasa awal-awal sekolah berangsur membaik dan puji syukur pada Illahi Rabbi bahwa saat ini aku dapat menyelesaikan pendidikan tinggi, serta mewujudkan sebagian harapan mereka. Aku tahu bahwa suatu saat nanti, Akulah yang seharusnya memikul beban tanggung jawab yang saat ini masih dipikul Ayahku yang sudah semakin menua, karena aku adalah anak laki-laki pertama dalam keluargaku, dan aku masih memiliki 5 (lima) orang adik. Hingga saat ini aku masih terus belajar dan terus berusaha agar dapat membahagiakan mereka, aku berharap setiap tetesan peluh dan keringat mereka ketika membesarkan kami anak-anaknya bukanlah kesia-siaan.

Ibu, terima kasihku untukmu, atas segala bentuk kasih sayang yang tercurah kepada kami anakmu. Setiap kata yang terucap darimu adalah doa untuk kami. Semoga semakin bertambahnya usia akan mengantarkan engkau kepada kebahagiaan dalam hidup.

Ayah, terima kasihku kepadamu, atas segala tempaan dan ajaran akan hidup dan kehidupan ini. Suatu saat nanti Engkau akan tersenyum bahagia melihat anak-anakmu ini. Semoga Tuhan menghitung dan memberikan balasan kebaikan atas setiap langkah yang kau tapaki dan setiap tetes keringat yang kau kucurkan selama ini.

Terimakasih yang terucap hari ini dan hingga kapan pun tak akan pernah dapat mengimbangi apa yang telah engkau berikan kepada kami. Semoga Illahi Rabbi memberikan kebahagiaan kepada kalian berdua. Amin.

0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
kotabumi, lampung, Indonesia
sederhana namun menarik